Wednesday, June 3, 2015

Tuhan Itu Pemimpi

Manusia tercipta lengkap dengan perasaan, pikiran, dan jiwa. Perasaan menjadi mimpi, pikiran menjadi tindakan dan jiwa menjadi legitimasi bahwa manusia itu memang "ada".
Manusia memiliki kehendak, namun diatas kehendak manusia ada dzat yang lebih berkehendak, Tuhan, jika saya tidak salah penyebutannya. Diatas langit masih ada langit ^^

Lantas dimana batasan kehendak yang dimiliki oleh manusia jika segalanya atas pengesahan Tuhan, jika yang diinginkan terjadi maka terjadilah ! begitu kira-kira isi terjemahan suatu ayat.

sek, isinya mulai ngawur...
Jadi gini, bukankah kita sebagai manusia yang berserakan di muka bumi ini hanyalah sebagai buruh Tuhan ? Tuhanlah yang bermimpi dan kita sebagai sumber daya manusia yang mencipta mimpi-mimpi itu.

Tidak lolos dalam suatu seleksi bergengsi internasional -jiahahaha tapi emang beneran, bener ga lolos- bikin lumayan geram sama diri sendiri. Sadar kalau belum mengupayakan yang terbaik, sadar kalau itu belum rezeki saya ? yaa yaa bisa. Sadar kalo susaaaaahhhhh banget buat bikin keputusan penolakan apakek yang ujung-ujungnya korbannya adalah saya, dan kesempatan buat saya.

Kratak. Inget tahun lalu ga ikut seleksi karena baru tahu ada seleksi setelah 3 hari pendaftaran online ditutup. Kalau mesti ngulang seleksi lagi tahun depan untuk pemberangkatan tahun depannya lagi, artinya kalaupun tahun depan lolos baru akan berangkat tahun 2017. Itu udah masuk tahun terakhir di universitas, dan sedang berdarah-darahnya sama skripsian. Amin.

Itu. Mimpinya Tuhan. Sudah ter-setting demikian di jagad raya agar terlihat seolah-olah itu adalah keinginan saya.

Lontaran saya inipun masih dalam tahap verifikasi wkwk, saya pun belum sepenuhnya percaya
Namun hipotesa yang saya ambil adalah Tuhan itu pemimpi juga, hanya saja usahanya terlihat dalam jiwa dan raga manusia dalam mewujudkannya.

and at the end, God always has a dream, of you and for you. Yohooo !

Dinda A,
Wassalam

Ayo !

20.
Masih berwujud. Masih menghembus. Masih ingin diakui eksistensinya. Masih belum dewasa. Belum. Masih mencari sesuatu entah apa. Cari.

Kamu itu manusia yang harus terus berjalan. Yaa dengan keteguhan hatimu, dengan segala keyakinan yang ada, dengan panduan hatimu, dan mungkin dengan sedikit receh di saku. Siapa kata di usia segini segalanya tidak terpikirkan ? masa depan ? pasangan ? teman ? rumah tinggal ? traveling ? barang-barang teranyar ? semuanya terpikirkan. Namun yang terpenting untuk saat ini adalah idealisme. Tunggu tunggu, mungkin kamu tidak sedang serius

Masuk ke jurusan perkuliahan dengan beralaskan coba-coba, materi perkuliahan yang diraba-raba, kawan yang mengada-ada. Seseorang berkata kepadamu “sudahlah, pikirkan saja bagaimana jadinya negeri ini di masa mendatang, itu sudah tugasmu”
Kemudian, kamu membathin “Aku mempelajari teori agar pada praktiknya berjalan dengan sesuai, tidak lantas membuatmu hilang kewajiban untuk ikut memperbaiki tanah merah yang putih ini, kalau kau tidak ingin ikut- setidaknya mencoba berusaha- membenahi negeri ini, tarik dan hembuskanlah nafasmu itu di galaxy lain di tata surya ini”. Itu

Coba pikir dulu apa yang bisa kamu berikan, kontribusi. Masih mikir nanti didepannya akan dapat apa ? aduh, kenapa seakan-akan seluruh planet harus mengitarimu, kenapa tidak jadi pluto yang kehilangan orbitnya dan mengitari matahari tanpa lintasan orbit yang jelas. Atau kenapa tidak jadi matahari yang bersinar hingga neptunus walau terlanjur beku sudah bongkahan planet itu ^^


Dinda A,
Wassalam 


Tuesday, June 2, 2015

Nobody Nowhere

21.31.
Masih di halaman 306 nonfiksi coretan Donna Williams mengenai kisah nyata gadis autistik. Dan itu bukan halaman penghabisan, dan membacanya-pun butuh pengulangan beberapa kali.

Entah kenapa bacaan seperti itu terhampar di keinginan saya untuk dibaca, awalnya karena buku yang lain belum hatam- selalu seperti itu sih. Tulisannya blak-blakan, memberikan kisah perjalanan hidup yang “luar biasa”, ia memetakan peta dari sebuah dunia yang paling sulit dijamah, sebuah kesaksian memesona mengenai kecerdasan yang tak lekang oleh derita mental. Dari sini pun saya sadar bahwa kita memang memahami segala sesuatu secara pribadi, berbeda, segala sesuatu terinterpretasi atas dasar pemahaman pribadi, terkhusus para penderita autistic yang sulit menyerap ajaran dari luar. It’s just another interesting thing I wanna know. Skip.